Melukat : Tradisi Pembersihan Diri

Air adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan manusia di bumi. Hampir dua pertiga bagian bumi terdiri dari air, hal yang membedakannya dengan planet lain di jagat raya. Tidak hanya bumi, dua pertiga dari zat yang membentuk tubuh manusia juga air. Begitu pentingnya, air sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan manusia tidak bisa hidup tanpa air. Di Bali, air juga dimanfaatkan untuk ritual keagamaan sebagai tirtha atau air suci anugerah Tuhan.

Agama Hindu Dharma yang dianut sebagian besar masyarakat di Bali juga dikenal dengan sebutan Agama Tirtha (“agama air suci”). Berbeda dari tempat asalnya di India, Hindu di Bali merupakan perpaduan Hindu aliran Siwa, Waisnawa, dan Brahma dengan kepercayaan lokal orang Bali. Laut, danau, sungai dan sumber mata air dianggap penting sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Bukti pentingnya bisa dilihat dari lokasi beberapa pura yang mengambil tempat dekat dengan sumber air seperti Pura Tanah Lot, Pura Uluwatu, Pura Ulun Danu Beratan, Pura Tirta Empul, dan lainnya.


Dalam ritual umat Hindu, selain sebagai tirtha, air juga dipakai sebagai sarana pembersihan diri jasmani dan rohani pada ritual yang disebut melukat. Berasal dari kata sulukat (su yang berarti baik dan lukat berarti penyuciaan), melukat berarti upacara menyucikan diri guna memperoleh kebaikan. Ritual melukat telah dilakukan oleh umat Hindu secara turun temurun untuk berbagai kepentingan, namun tujuannya tetap sama yaitu penyucian diri.

Beberapa diantara umat melaksanakan melukat sebagai simbol membersihkan diri dari segala kekotoran guna bisa berada dalam pikiran yang kembali bersih dan berisikan hal positip untuk melanjutkan kehidupan. Ada juga yang melakukannya untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit, memperoleh keturunan, kewibawaan dan lainnya. Walau demikian kesemuanya merupakan permohonan yang ditujukan kepada Tuhan melalui perantara air.

Tempat melukat umumnya dipilih pada sumber air yang dianggap suci. Melaksanakannya bisa bersama-sama ataupun sendiri. Salah satu tempat yang banyak dikunjungi yaitu Pura Tirta Empul, Desa Manukaya, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pada hari tertentu seperti Kajang Kliwon, Manis Galungan, Kuningan atau bertepatan dengan piodalan (hari raya) pura, umat yang datang bisa mencapai ribuan orang. Hari-hari tersebut diyakini baik untuk melaksanakan melukat agar doa dan permohonan mereka bisa terkabul.

Pura Tirta Empul lokasinya bersebelahan dengan Istana Presiden Tampaksiring. Dari Denpasar bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kendaraan bermotor kearah utara melalui kota Gianyar. Tirta Empul berarti air suci yang menyembur dari tanah. Air dari sumber mata air di pura ditampung pada sebuah kolam besar di bagian dalam pura terlebih dahulu sebelum dialirkan menuju puluhan pancuran di kolam permandian. Prosesi melukat dilakukan pada kolam permandian tersebut.

Masing-masing pancuran di kolam permandian Pura Tirta Empul memiliki nama sesuai peruntukannya seperti pancuran penglukatan, pebersihan, sudamala, cetik (racun), dan sebagainya. Umat yang hendak melukat bisa memilih di pancuran mana saja harus melakukannya. Sebagai persiapan, umat menghaturkan sesaji dan memanjatkan doa didekat pancuran terlebih dahulu.  Melukat dimulai dengan menguyur kepala, membasuh muka maupun mandi beberapa saat dengan air yang keluar dari pancuran. Usai melukat, umat kemudian melakukan persembahyangan di pura.


Lokasi lain yang sering menjadi tujuan melukat yaitu air terjun Gunung Kawi Sebatu dan Pura Selukat serat Tirta Empul, ketiganya terletak di Kabupaten Gianyar, Air Sudhamala  dan Tirta Mas Bungkah di Kabupaten Bangli, Goa Giri Putri di Nusa Penida. Untuk tempat melukat di laut, pantai Sanur, Pantai Goa Lawah, Pantai Klotok merupakan lokasi yang banyak dipilih. Lokasi  dipilih bukan saja karena sumber airnya dianggap suci dan terjaga,  biasanya tempat tersebut mempunyai nilai sejarah. Pura Tirta Empul misalnya, keberadaanya dikaitkan dengan cerita peperangan antara Mayadenawa seorang raja berperangai buruk dengan Dewa Indra.

Melukat menyucikan diri dengan perantara air guna mencapai kedamaian dan ketenangan jiwa raga merupakan hal yang banyak dicari oleh umat Hindu. Semua didasari atas keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang memberikannya. Harmoni hubungan antara manusia, alam dan Tuhan harus selalu dijaga guna mendatangkan kebaikan hidup saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serombotan Makanan Khas Klungkung

Nyepi dan Secuil Kotorannya yang Perlu di Bersihkan #EarthHour #SaveBALI #SaveWorld

Guru Boleh Telat, Kenapa Siswa Tidak Boleh Telat?